Laman

MELESTARIKAN PERUSAHAAN KELUARGA

Para wiraswasta selalu menjadi ujung tombak bagi kemajuan ekonomi sebuah negara. Tak ayal negara-negara yang relatif maju perekonomiannya selalu bertebar para wiraswastawan yang tangguh. Merekalah sebenarnya pencetak keajaiban ekonomi.

Para entrepreneur ini mempunyai ide inovatif, sekaligus mempunyai kemampuan bagaimana merealisasikan gagasan-gagasan itu. Sehingga sosok wiraswastawan ini adalah kreatif, bermental baja untuk merealisasikan ide-idenya, berani mengambil keputusan dan pantang menyerah untuk mempertahankan keputusannya. Cara berpikirnya pun kadang-kadang agak berbeda dengan kebanyakan orang.
Langkah yang ditempuh untuk mewujudkan idenya, tentunya adalah membuat sebuah badan usaha yang berbadab hukum. Agar dapat merealisasikan ide berdasar keinginannya, maka perusahaan harus berada dalam kendalinya. Dan ketika idenya terealisasi yang muncul adalah perusahaan keluarga.
Nah, inilah yang mewarnai hasil penelitian R. Beckhard & W. Gibb Dyer. Di negara yang sangat maju seperti AS, 90 persen dari perusahaan besar adalah bisnis keluarga atau perusahaan yang didominasi kelompok keluarga. Celakanya, ungkap Naisbitt & Aburdene, hanya 30 persen dari seluruh bisnis keluarga yang survive sampai generasi keduanya. Secara umum, bisnis keluarga akan berakhir tanpa kehadiran pendirinya. Di tanah air kita fenomena ini juga terjadi.
Sosok pendiri sangat berpengaruh dan merupakan personifikasi dari perusahaan. Sang pendiri yang ditempa oleh pengalaman yang sangat panjang, merupakan sosok yang dapat mengambil keputusan dengan cepat dan seringkali juga tepat berdasarkan referensi pengalaman di masa lalu, tanpa melalui analisis yang rumit. Pengalaman masa lalu adalah referensi yang sangat berharga, karena sudah terbukti keterandalannya. Dalam diri sang pendiri itulah terdapat mesin pengambil keputusan yang menggerakkan mesin-mesin utama perusahaan.
Namun sang pendiri adalah manusia yang tak pernah lepas dari kodratnya sebagai manusia, yang harus melewati daur hidup biologis sejak lahir, kanak-kanak dewasa, menua, dan akhirnya meninggal dunia. Jika perusahaan masih menjadi personifikasi dari pendirinya ia akan mengalami daur hidup yang kurang lebih hampir sama. Perusahaan akan tumbuh, dewasa, menua dan akhirnya meninggal dunia. Perusahaan keluarga yang bertumpu pada kharisma pendirinya, akan memberi beban berat kepada pewarisnya. Pewaris bebannya kan jauh berkurang jika para pendiri mewariskan bukan hanya suatu perusahaan, tetapi suatu system yang mapan. Sistem yang mapan akan meudahkan pewaris untuk mengendalikannya.
Terdapat sedikitnya tujuh mitos mengenai perusahaan keluarga, yang harus dikikis sebagai prasyarat kelanggnegan usaha keluarga. Pertama, yang paling sering terdengar adalah perusahaan keluarga tidak profesional. Pada kenyataannya profesionalitas perusahaan keluarga memiliki gradasi yang berbeda-beda. Kedua adalah tidak adanya pemisahan antara keuangan perusahaan dan keuangan pribadi. Ketiga, perusahaan keluarga dianggap tidak dapat menerapkan sistem dan prosedur yang sehat. Keempat, perusahaan keluarga hanya memberikan kesempatan untuk menduduki posisi kunci hanya kepada kerabat keluarga saja. Kelima, kinerja tidaklah penting, tetapi yang lebih penting adalah kemampuan membina hubungan yang dekat dengan pemilik. Keenam, perusahaan keluarga akan berakhir di tangan generasi kedua. Dan terakhir, perusahaan keluarga tidak memandang SDM sebagai aset perusahaan yang penting.
Sindroma perintis kemerdekaan harus diantisipasi dan ditanggulangi dengan baik. Para perintis perusahaan, dari kalangan keluarga maupun kalangan di luar keluarga yang telah bersusah payah ikut membabat hutan dan terjun langsung bergelimang lumpur menyemai bibit dan membesarkan perusahaan dengan blood and tears harus mendapat apresiasi yang layak dan tepat. Layak karena mereka mendapat imbalan yang wajar atas jerih payahnya di masa lalu, yang akan menjadi landasan bagi budaya perusahaan tentang perlakuan terhadap orang-orang yang telah berjasa kepada perusahaan. Tepat dalam artian mereka mendapat tempat yang sesuai dan dapat memberi konstribusi kepada perusahaan, dan bukannya menjadi beban. Persoalan ini bukan perkara mudah, karena factor-faktor emosionalitas dan rasionalitas harus didamaikan .
Suksesi dan persoalan lain yang terkait dengan suksesi merupakan masalah perusahaan keluarga yang universal, sekaligus sangat kritis. Antara para perintis dan pewaris sering terjadi kesenjangan, dalam pandangan hidup dan berbagai hal lainnya yang menyebabkan apresiasi terhadap perusahaan dan segala kebijakannya juga berbeda.
Para perintis sering menganggap para penerus kurang dewasa dan kurang pengalaman., serta kurang memiliki motivasi yang tinggi untuk membesarkan perusahaan. Para pewaris yang dibesarkan dalam kemapanan terkadang memiliki kecenderungan untuk menikmati hidup secara berlebihan. Sementara para penerus yang biasanya jebolan sekolah bisnis di luar negeri, merasa para perintis pelit dalam berbagi kekuasaan
Salah satu keputusan penting adalah menetapkan perusahaan akan dikelola oleh pewaris atau profesional. Jika tidak ada pewaris yang tertarik, lebih baik menempatkan manajer yang profesional daripada memberikan wewenang kepada anggota keluarga yang tidak kompeten.
Langkah-langkah suksesi secara umum terdiri dari tiga tahap. Pertama adalah melakukan transfer pengetahuan dan jejaring, serta pengembangan sikap yang benar. Kedua, adalah melakukan transfer kharisma, dan mulai memanfatkan jejaring yang dimiliki. Ketiga, pengembangan keahlian, kharisma dan reputasi.
 Yang juga sangat penting adalah kerangka waktu, dengan menetapkan waktu yang sesuai dalam proses suksesi. Berikan perhatian terhadap pendidikan formal, pengalaman bisnis, serta pendidikan non-formal, yang disertai pendewasaan emosi dan sikap, yang meramu kedinamisan dan kebijaksanaan.
Pustaka
AB Susanto.  2009.  Melestarikan Perusahaan Keluarga.  Jakarta Consulting Group.  Jakarta
 
Open your hands, open your eyes, open your mind and open your hearts
RKY REFRINAL PATIRADJAWANE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar