"Our greatest glory is not in never falling but in rising every time we fall." - Confucius
Kemenangan besar bukanlah saat kita tidak pernah gagal, melainkan saat kita bangkit dari setiap kegagalan.
Jatuh terus bangun adalah hal biasa dalam hidup ini.
Buka usaha, terus bangkrut, dan buka lagi adalah juga biasa dalam hidup ini.
Terus apa yang tidak biasa ?>
> Yang tidak biasa adalah bangkit kembali setelah jatuh. Sebab untuk bangkit
> kembali adalah suatu hal yang sulit dan tidak semua orang bisa.
>
> Saya-pun pernah alami situasi tersebut. Saya pernah jatuh, dan tidak hanya
> sekali saya jatuh. Usaha bangkrut, kerja tidak ada adalah situasi yang
> pernah saya alami; dan untuk bangkit kembali benar-benar sulit. Mengapa
> demikian ? Disamping harus tahan terhadap cibiran orang lain, termasuk
> cibiran saudara-saudara, saya juga harus bisa melawan diri saya sendiri.
> Setiap kali berjuang untuk bangkit, batin bergejolak dan mengatakan :
> "sudahlah, utk apa susah payah. Nanti juga akan terjadi hal sama." Susah
> sekali saya atasi hal ini, dan di dalam perjuangan saya ada satu hal yang
> saya lakukan yaitu mengaliri diri dengan semangat dan teladan dari Yesus
> (Isa) yang menderita sengsara sedemikian hebat, menghadapi cemoohan,
> memanggul salib dan jatuh 3 kali tetapi tetap tegar dan terus berjuang,
> sampai akhirnya mendapatkan kemuliaanNya. Semangat dan teladan itulah yang
> terus menerus mengalir, dan memberikan semangat bagi saya untuk berjuang.
>
> Jatuh adalah biasa, dan yang luar biasa adalah kalau kita bisa bangkit
> kembali dari keterpurukan.
>
> Jangan takut untuk jatuh, sebaliknya takutlah kalau tidak bisa bangkit
> kembali dari keterpurukan. Apabila kita takut jatuh, maka kita tidak akan
> pernah berani bangkit di saat kita jatuh.
Daily Bread #12
"The challenge is not to manage time, but to manage ourselves." - Steven Covey
Tantangannya adalah bukan pada pengaturan waktu, melainkan pada pengaturan diri
sendiri.
Sewaktu SD, ayah saya selalu rajin untuk mengingatkan saya akan waktu belajar.
Pada jaman itu masih belum ada handphone, bahkan telpon fix line telkom juga
masih jarang, tetapi hal ini tidak menghalangi ayah utk menelpon rumah kalau
berada di luar kota. Pagi-pagi ayah telpon dan bertanya apakah aktifitas yg saya
lakukan sudah sesuai jadwal yg dibuat. Rutinitas ini berlangsung sejak saya SD
kelas 1 sampai kelas 6, dan saat saya di SD kelas 6 inilah timbul dari dalam
diri saya perasaan sebal karena diatur-atur. Akibatnya, sering saya bohongi ayah
dengan katakan kalau saya ikuti jadwal yg dibuat. Waktu itu, saya berpikiran
mana ayah tahu kalau saya bohongi. Sering saya bolos les dan pergi main bulu
tangkis di rumah teman, tetapi saya selalu bilang berangkat les, dan berkata
bahwa mama juga tahu saya berangkat les. Satu hal yang saya tidak tahu adalah
ternyata ayah tahu kalau saya bohong. Walaupun tahu, herannya, saya tidak pernah
mendapat marah atau ditegur ayah dan kesannya ayah biarkan semuanya terjadi.
Waktu itu, sistem penilaian adalah secara kuartalan. Setiap 4 bulan sekali
terima raport. Kuartal pertama SD kelas 6 bisa saya lewati dengan baik, dan
tidak ada nilai merah. Tetapi petaka terjadi di Kuartal ke dua ! Raport saya
hampir tidak ada nilai biru-nya, dan satu-satunya nilai biru adalah pelajaran
Agama. Ayah saya-pun dipanggil menghadap guru wali kelas, dan menerima laporan
lengkap tentang nakalnya saya. Sepulang mengambil raport, saya hanya diam saja
dan siap menerima hukuman dari ayah. Setibanya di rumah, saya heran karena ayah
saya malah mengajak ibu, kakak dan saya untuk makan bersama di rumah makan. Nah,
saat makan inilah ayah berkata : "kita semua makan di sini untuk merayakan
sesuatu. Adik kalian, anak papi paling kecil sudah mulai beranjak besar.
Sekarang dia sudah ingin mandiri dan tidak mau campur tangan papi."
Saya tidak mengerti maksud ayah, tetapi saya tidak berani menanyakan atau
meminta penjelasan ayah. Saya hanya bisa bengong saja. Rupanya, pikiran saya
dibaca ayah dan ayahpun jelaskan "mulai hari ini, papi tidak akan atur-atur kamu
lagi untuk les ini dan itu. Semua kamu yg atur. Papi hanya minta kamu lulus SD.
Tidak perlu jadi juara, asal lulus saja sudah cukup membuat papi bahagia"
Mendengar perkataan ayah, bukan main senangnya hati saya. Saya bayangkan bahwa
saya tidak perlu les-les yang membosankan, saya bisa main bulu tangkis
sepuasnya, tetapi saya juga bertekad untuk penuhi keinginan ayah saya. Dalam
seminggu, saya 4 kali seminggu latihan bulu tangkis dan supaya keinginan ayah
bisa terpenuhi, saya kadang membuat PR di lapangan bulu tangkis sebelum latihan
dimulai. Kadang saya bangun pagi2 sekali utk belajar bahan ulangan hari itu.
Sering pula saya tidak tidur siang tetapi membuat PR sebelum latihan. Saya
jalani semuanya dengan senang, dan hasilnya : saya lulus SD dengan nilai bagus.
Friends, dari pengalaman saya, sebenarnya saya bukanlah orang yg pandai atur
waktu. Saya tidak bisa atur waktu saat utk belajar dengan saat untuk latihan
bulu tangkis. Tapi yg saya lakukan adalah mengatur diri sendiri, dan ini
tidaklah mudah. Saya paksakan diri saya untuk bangun pagi-pagi supaya bisa
belajar. Saya paksakan tahan kantuk di siang hari untuk membuat PR. Dalam hal
ini, apa yang saya lakukan tidak diajarkan oleh ayah. Ayah saya tidak
mengajarkan apapun tentang bagaimana cara mengatur diri sendiri. Yang dilakukan
Ayah saya hanya membuka peluang bagi saya untuk mulai belajar mengatur diri
sendiri.
Bagi saya, mengatur diri sendiri itu ibaratnya bermain bulu tangkis. Saya
bukanlah maestro bulu tangkis seperti Rudi Hartono atau Liem Swie King atau yang
lainnya. Tetapi lewat latihan bulu tangkis, saya menjadi tahu kapan harus main
bola panjang, tahu kapan harus smash, tahu kapan harus main depan net, dan tahu
di mana saya harus menempatkan bola. Inilah yang saya implementasikan pada diri
saya.
Lewat mengatur diri inilah, saya bisa mengatur waktu. Saya bisa bekerja tanpa
dibebani perasaan akan kehabisan waktu, dan benar bahwa saya tidak pernah merasa
waktu kerja saya tidak cukup sebab saya sudah mengatur diri saya sedemikian rupa
sehingga aktifitas saya-pun sesuai dengan waktu yg ada
Daily Bread #13
"Self-praise is for losers. Be a winner. Stand for something. Always have class,
and be humble." - John Madden
Pecundang selalu bicara tentang dirinya sendiri. Seorang pemenang mempunyai
prinsip, berkelas, dan rendah hati.
Saya punya teman yang senantiasa selalu bicara tentang dirinya sendiri. Dimulai
dari yang dia lakukan di kantor, sampai dengan yang dia lakukan thd keluarganya.
Dia suka pula cerita tentang bagaimana dia membantu adik-adiknya, dll dll.
Mendengar ceritanya, sayapun terkagum-kagum. Hebat sekali dia.
Suatu hari, saya dengar dia pindah kerja ke perusahaan lain. Saya-pun
mengunjunginya utk ucapkan selamat karena katanya dia diangkat jadi direktur.
Sesampainya di rumah dia, -seperti biasa- si kawan selalu cerita kehebatannya.
Sampai akhirnya saya-pun bertanya : "ngomong-ngomong, mobil lo ke mana ?"
Dia jawab : "itu khan mobil kantor, jadi gue kembalikan".
Saya diam dan dalam hati berkata "ternyata itu mobil kantor, bukan mobil yg
dibeli sendiri spt ceritamu padaku". Akhirnya, saya lanjut bertanya "terus
rencana mau ganti apa ? Masak kamu punya jabatan tinggi tapi ngga punya mobil ?"
--- Ok, saya tidak lanjutkan cerita saya, karena kelanjutannya bisa ditebak ---
Selanjutnya, saya mau cerita sedikit tentang Liu Bei - salah satu tokoh sentral
di cerita SAM KOK. Mengapa Liu Bei ?
Saya cerita Liu Bei sebagai contoh figur seorang pemenang. Apabila sempat nonton
DVD-nya Sam Kok, maka kita semua menyaksikan bagaimana Liu Bei tetap rendah hati
meski dia sebenarnya Paman Raja. Juga dia menjunjung tinggi persahabatannya,
perhatian thd rakyatnya, dan banyak lagi. Liu Bei mengajarkan kepada kita
bagaimana menjadi pemimpin, menjadi sahabat, dan mengajarkan tentang kerendahan
hati. Liu Bei memang contoh pribadi yg menyenangkan, sehingga tidaklah heran
kalau dia bisa mendapatkan simpati rakyat dan menjadi lawan utama Cao Cao.
Dari ke dua cerita di atas, saya ingin sampaikan bahwa tidak perlu kita
menyombongkan diri kalau kita menjadi pemenang dalam pertandingan di kehidupan,
sebab tanpa kita cerita-pun maka semua juga akan tahu akan keberhasilan kita.
Sebaliknya, untuk apa kita tutupi kegagalan dengan cerita keberhasilan ? Tokh
suatu saat juga akan terbongkar.
Lalu, bagaimanakah dengan saya ?
Saya harus akui bahwa saya masih belum bisa disebut pemenang. Banyak sekali
kekurangan saya, dan inilah yang membuat saya tidak putus untuk terus belajar
dan belajar. Saya masih terus belajar dan perbaiki diri utk bisa menjadi pribadi
yang menyenangkan.
Notes : meski punya sikap berbeda dg Liu Bei, Cao Cao juga termasuk winner,
karena sekalipun tdk pernah mengumbar cerita yg membanggakan kehebatan dirinya.
Daily Bread #14
"Christmas is forever, not for just one day for loving, sharing, giving, are not
to put away like bells and lights and tinsel, in some box upon a shelf. The good
you do for others is good you do yourself" Norman Wesley Brooks, "Let Every Day
Be Christmas," 1976
Natal adalah selamanya, bukan hanya satu hari saja untuk mencintai, berbagi,
memberi; juga bukan seperti lonceng, lampu, dan pernik-pernik yang disimpab di
kotak dan rak. Kebaikan yang anda lakukan untuk orang lain adalah kebaikan untuk
anda sendiri.
Natal diperingati setiap tanggal 25 Desember, dan diperingati sebagai kelahiran
Yesus. Di tanggal 25 Desember inilah seluruh dunia merayakan Natal dengan
meriah, dan di hari inilah berkumpul seluruh anggota keluarga, kerabat, dan
teman-teman untuk merayakan Natal. Ada pula yang mengunjungi panti asuhan, panti
jompo, dan panti sosial lain hanya sekedar untuk berbagi kebahagiaan Natal
bersama mereka.
Natal memang istimewa. Hari yang bisa menebar cinta kasih kepada sesama. Hanya
saja, janganlah kita menebar cinta kasih di satu hari saja yaitu di saat Natal.
Melainkan jadikanlah setiap hari sepanjang tahun sebagai Natal. Menjadikan
setiap hari sepanjang tahun sebagai Natal bukan berarti memajang pohon Natal
sepanjang tahun, bukan berarti memutar lagu Natal sepanjang tahun, bukan berarti
mengunjungi panti-panti sosial setiap hari sepanjang tahun..melainkan cukup
hanya memberikan cinta kasih terhadap sesama.
Cinta kasih terhadap sesama mempunyai arti luas dan tidak berarti memberi cinta
kasih itu sama dengan berbelas kasih. Berbelas kasih itu salah satu bentuk
tindakan cinta kasih, tetapi bukanlah berarti cinta kasih itu sendiri. Kemudian,
seperti apakah cinta kasih itu ?
Cinta kasih adalah kasih yang diberikan ibu terhadap anaknya.
Cinta kasih adalah kasih seorang bapak terhadap keluarganya.
Cinta kasih adalah kasih seorang owner perusahaan terhadap staff-nya.
Cinta kasih adalah staff yang bekerja sebaik-baiknya untuk perusahaan.
Dan masih banyak lagi artinya..
Tetapi intinya hanya satu yaitu : melakukan kebaikan dengan tulus kepada sesama.
Dengan memberikan kebaikan kepada sesama maka Natal-pun tidak hanya terjadi di
tanggal 25 Desember saja, melainkan sepanjang tahun.
Merry Christmas 2010.
Daily Bread #15
"We must travel in the direction of our fear." - John Berryman
Kita harus berjalan di dalam kecemasan atau ketakutan kita.
Friends, di dunia ini tidak ada satu orangpun yang tidak pernah merasakan
kecemasan atau ketakutan; sebaliknya saya percaya bahwa banyak yang mengalami
kenyataan bahwa justru kecemasan atau ketakutan tersebut ternyata membawanya ke
kesuksesan atau keberhasilan. Ibaratnya ada sales yang cemas apabila tidak
mencapai target maka ybs akan bekerja keras utk mencapai target tsb. Usaha si
sales utk mencapai target ini dalam Psikologi dikenal sebagai ego defense
mechanism yang otomatis muncul utk mengatasi kecemasannya.
Ego defense mechanism ini ada macam-macam, dan yang dimunculkan si sales adalah
dalam bentuk achievement; artinya kecemasan yg ada bukanlah dia lawan/diingkari
(denial), atau ditekan (repress) melainkan justru dijadikan bahan bakar untuk
achievement. Inilah yang disebut hidup dengan kecemasan dan ketakutan.
Hidup dengan kecemasan atau ketakutan ini tidaklah mudah. Saya-pun juga sulit
melakukannya, sebab sering saya masih dikuasai oleh kecemasan dan ketakutan
saya. Seringkali saya berhadapan dengan jalan buntu, dan tidak tahu jalan keluar
atas persoalan yg saya hadapi. Kecemasan atau ketakutan menyelimuti saya,
membuat saya tidak bisa berpikir jernih untuk mencari jalan keluarnya. Kalau
sudah demikian, saya hanya bisa berserah padaNya lewat doa, dan sering akhirnya
saya mendapatkan pencerahan setelah melakukan kontemplasi.
Kecemasan atau ketakutan senantiasa ada, dan jadikanlah bahan bakar yang
memotivasi kita untuk mencapai target kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar