Daily Bread #16
"All of us do not have equal talent, but all of us should have an equal opportunity to develop our talents." - John F. Kennedy
Di antara kita tidak ada yang memiliki bakat/kecakapan yang sama, akan tetapi kita semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakat/kecakapan kita.
Dulu, sewaktu TK atau SD, kita seringkali ditanya apakah cita-cita kita ? Waktu itu, kalau didata, jawaban umum untuk pertanyaan tersebut :
1. Jadi Dokter
2. Jadi Tentara
3. Jadi Polisi
4. Jadi Pilot
5. Jadi Guru
Akan tetapi, sesudah menjalani tahap-tahap pendidikan dan terjun ke masyarakat, ternyata banyak sekali yang tidak menjadi seperti yang dicita-citakan sewaktu kecil. Loch mengapa demikian ? Ini sebab sewaktu kecil (baca : anak kecil) suka meniru yang menarik untuk dirinya, atau pengin menjadi seperti tokoh yg diidolakan. Sementara itu, anak kecil masih belum menyadari bakat/kecakapannya, dan akibatnya keinginan tidak mengikuti bakat/kecakapannya. Di sinilah campur tangan pendidik dan orangtua sangat diperlukan, yaitu untuk mengarahkan si anak untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Namun sayang sekali, banyak anak yang mengalami hambatan untuk mengembangkan potensinya karena tidak adanya kesempatan, seperti : orangtua yang memaksa si anak mendalami ketrampilan melukis, padahal si anak potensinya di bidang musik.
Keadaan yang sama juga terjadi di lingkungan organisasi kerja. Ada pegawai yang sebenarnya berpotensi di marketing, tetapi ditempatkan di akunting karena background pendidikannya akuntansi. Ada yang sebenarnya cocok di administrasi, tapi malah di marketing. Kalau ini terjadi di perusahaan, maka sama halnya dengan tidak membuka peluang bagi seseorang utk mengembangkan potensinya. Di sinilah peran HRD sangat diperlukan, dan terutama Talent Hu
Daily Bread #17
"It takes less time to do a thing right, than it does to explain why you did it wrong." - Henry Longfellow
Butuh waktu lebih cepat untuk mengerjakan sesuatu dengan benar, daripada harus menjelaskan mengapa salah mengerjakannya.
Semasa SD, guru Matematika selalu menghukum muridnya yang salah menyelesaikan tugas di depan kelas. Saya ingat ada teman -namanya Eko Prayoga (semoga ngga menjadi member millis ini..hahaha..)- yang senantiasa dihukum pak Guru Matematika karena salah menyelesaikan hitungan di papan tulis. Gara-gara salah mengerjakan, dia diminta berdiri sampai pelajaran selesai. Padahal kalau dia benar mengerjakannya maka tidak akan diminta berdiri.
Tunggu sebentar ! Nampaknya ilustrasinya tidak nyambung dg quote dari om Hery Longfellow.
Lhah iya memang ngga nyambung, walaupun kalau dipaksakan juga bisa nyambung juga. Loch kenapa bisa nyambung ?
Begini cara menyambungnya :
1. Saya perlu waktu lebih dari 1 menit untuk menulis ilustrasi yang salah.
2. Saya perlu waktu sekitar 2 menit untuk menuliskan pembelaan saya atas kesalahan yg saya lakukan.
Jadi apabila saya menuliskan ilustrasi yang benar, maka saya akan lebih cepat selesai 2 menit daripada kalau saya salah.
Friends, dalam hidup sehari-hari -terlebih dalam kerja- seringkali kita melakukan kesalahan yang seharusnya tidak patut utk kita lakukan.
Misalnya, ada staff Purchasing yang membeli barang dg harga lebih mahal :
diperlukan waktu lama untuk menjelaskan ke management tentang kesalahannya tsb dan sekaligus juga menjelaskan ke management langkah utk meminimize kerugian.
Padahal, apabila dia lebih cermat dan hati-hati maka akan diperoleh barang dg harga yg lebih murah dan tidak perlu jelaskan ke management.
Kalau demikian, benar kata pepatah : "biar lambat asal selamat" yang dalam konteks ini berarti cermat dan hati-hati dalam memutuskan sesuatu dan melakukan sesuatu.
Daily Bread #18
"Failure is the condiment that gives success its flavour." - Truman Capote
Kegagalan adalah bumbu yang memberi rasa sedap pada kesuksesan
Masakan tanpa garam akan terasa hambar. Makanan kebanyakan garam juga tidak enak. Hal sama berlaku utk kesuksesan. Artinya : kita bisa merasakan nikmatnya kesuksesan apabila pernah mengalami kegagalan. Mengapa bisa demikian ?
Saya pernah menjadi orang yang takut gagal. Kegagalan bagi saya adalah kondisi yang sangat dan sangat tidak mengenakkan. Oleh sebab itulah, sejak kecil saya selalu berusaha keras untuk naik kelas, sebab naik kelas berarti berhasil dan tidak kebayang apabila saya tinggal kelas. Sesudah lulus SD, saya masuk SMP dan proses seleksi saya lewati dengan mulus. Sesudah SMP, saya melanjutkan ke SMA A yang terkenal/Favorit di kota saya. Dengan penuh percaya diri, saya ikut seleksi di SMA A. Tetapi saya gagal ! Mengetahui kegagalan ini, saya sangat kecewa dan marah. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi. Inilah KEGAGALAN PERTAMA.
Saya tidak bisa menerima kenyataan kegagalan saya. Hopeless. Saya selalu murung, malu bertemu dengan ayah, ibu, kakak. Saya banyak mengurung diri. Sampai akhirnya, papi dan mami memaksa saya untuk ikut seleksi di SMA B yang kalah favorit. Bahkan dengan nada keras mami berkata : "baru segitu saja sudah
menyerah, mau jadi apa kamu nanti!" Saya hanya bisa diam dan menahan marah.
Akhirnya, saya-pun ikut seleksi di SMA B. Meskipun saya ikut seleksinya dengan ogah-ogahan.
SMA B letaknya berdekatan dg SMA A. Sewaktu papi mengantar saya seleksi di SMA B (catatan : diantar krn khawatir saya kabur tdk ikut seleksi), papi mampir ke SMA A. Iseng saja, dan untuk melihat-lihat saja; dan papi melihat pengumuman bahwa peserta yang gagal di seleksi dapat mendaftar kembali untuk dipilih sbg siswa.
Saya diberitahu papi akan hal ini, dan mendaftarkan kembali. Dengan penuh semangat, saya kembali persiapkan diri saya utk seleksi. Hasilnya : saya diterima. Saya sangat senang, puas, bangga, dan bermacam-macam perasaan bahagia mengalir. Inilah KEBERHASILAN PERTAMA.
Kegagalan Pertama masih belum bisa mengubah saya untuk bisa menerima kegagalan, sebaliknya justru membuat saya semakin berusaha keras untuk tidak gagal. Semakin saya berusaha menolak kegagalan, semakin dekat saya dengan kegagalan. Saya kembali gagal. Saya gagal masuk dan inilah KEGAGALAN KE DUA.
Kegagalan ke dua masih tidak membuat saya bisa menerima kegagalan, bahkan membuat saya semakin takut gagal. Akibatnya, saya selalu memilih untuk berada di zona aman, dan takut utk membuat keputusan.
Berada di zona aman memang nyaman. Saya bisa jauh dari kegagalan. Tetapi saya juga tidak bisa berkembang dari segi karir. Sementara teman-teman seangkatan sudah memiliki usaha sendiri, sebaliknya saya malah masih menjadi anak buah.
Dalam sebuah acara reuni teman-teman SMA, mata saya mulai terbuka sewaktu melihat teman yg dulunya pernah tinggal kelas dan prestasinya biasa-biasa saja, tetapi sekarang dia sudah punya usaha sendiri. Tidak hanya 1 perusahaan, tetapi beberapa perusahaan. Melihat hal ini, muncul dari dalam diri untuk membuka usaha sendiri. Saya berpendapat : "kalau dia saja bisa, maka sayapun bisa spt dia..dan bahkan bisa lebih baikm"
Dorongan ini memunculkan tekad saya utk usaha sendiri, dan resign dari perusahaan tempat saya bekerja. Sayapun mulai merintis usaha sendiri dg modal tabungan saya. Merintis usaha tidak mudah, sulit sekali dan timbul kembali keinginan untuk memasuki zona aman saya. Tapi ini-pun tidak mudah, sampai akhirnya usaha saya bangkrut.
Di saat kebangkrutan, saya mengalami macam-macam peristiwa yang menyakitkan.
Dicibir, diejek, dipermalukan, ditolak-pun sudah saya rasakan. Justru kehancuran inilah yg membuat saya bertekad untuk bangkit kembali. Usaha untuk bangkit dari keterpurukan benar-benar memberi kenikmatan sendiri. Terlebih saat usaha membuahkan hasil. Saya benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa sewaktu usaha membuahkan hasil, walaupun hasilnya masih kecil. Dari hasil yang kecil ini saya kembangkan lagi dan lagi sampai mencapai hasil yang seperti sekarang ini.
Dari kejatuhan yang sangat pahit, saya bisa bangkit. Saya lawan diri saya sendiri yang takut gagal, dan ternyata saya menyadari bahwa kegagalan memberi warna tersendiri atas keberhasilan saya. Sungguh nikmat menikmati keberhasilan setelah kita mengalami kegagalan.
Daily Bread #19
"An optimist stays up until midnight to see the new year in. A pessimist stays up to make sure the old year leaves." Bill Vaughan
Orang yg optimis akan berjaga sampai larut tengah malam untuk menyaksikan datangnya tahun baru. Orang yg pesimis akan berjaga untuk memastikan tahun yg lama sudah berakhir.
Setiap menjelang Tahun Baru, banyak acara diadakan untuk menyambut tahun yang baru.
"Selamat datang 2011, Selamat jalan 2010"
Itulah ucapan yang lazim disampaikan, yang intinya adalah kita mulai membuka lembaran baru dan tinggalkan yang lama.
Friends, berbagai peristiwa sudah kita alami di tahun 2010. Kegagalan dan kesuksesan silih berganti kita alami, dan janganlah semua ini menyurutkan kita di tahun 2011. Oleh sebab itulah, fokuskan pandangan ke depan, menyambut tahun 2011 dengan semangat.
Tahun 2011 ibaratnya kertas putih yang akan kita tulisi. Kita bisa tulis apapun di kertas tersebut. Bahkan kita bisa tetap saja memandangi kertas tersebut tanpa menuliskan apapun. Semuanya menjadi pilihan kita.
Daily Bread #20
"The object of a New Year is not that we should have a new year. It is that we should have a new soul." G. K. Chesterton
Obyek penting dari Tahun Baru bukan karena kita harus berganti ke tahun baru.
Melainkan kita harus memiliki semangat baru.
Di akhir tahun 2010, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU untuk rekan-rekan semua.
Tinggalkan masa lalu dan tumbuhkan semangat baru untuk tahun yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar