#16 Daily Bread
When God looks at us he sees all the promise and talents he has given us.
If only we could see ourselves as our heavenly Father does!
~ Ken Rolheiser ~
Pada saat Tuhan melihat diri kita, Dia melihat segala janji dan kecakapan yang sudah diberikanNya
Kitapun bisa melihat diri sendiri apabila kita melihatnya seperti Tuhan melihat kita
Saya senantiasa berdoa supaya Tuhan memberikan mata bagi saya untuk bisa memahami diri sendiri. Saya merasa bahwa saya perlu terus menerus meningkatkan pemahaman saya terhadap diri saya sendiri. Hal ini penting agar saya bisa mengetahui segala kemampuan yang saya miliki, mengetahui kekurangan saya supaya saya bisa atasi. Selanjutnya, lewat pemahaman diri inilah saya menjadi semakin sadar dan merasakan besarnya karunia Allah yang telah diberikan. Dengan kata lain, memahami diri sendiri juga adalah sarana bagi saya untuk mengetahui dan mensyukuri berkat Allah. Selamat ber Hari Minggu.
#17 Daily Bread
"What you get by achieving your goals is as important as what you become by achieving your goals." -Henry David Thoreau
Segala yang anda dapatkan pada saat mencapai tujuan adalah sama pentingnya dengan akan menjadi apakah anda apabila tujuan tercapai.
Dulu, waktu SD, saya belajar keras supaya naik kelas dan mendapat hadiah dari papi. Kebiasaan ini kalau dipikir kembali memang tidak baik, sebab saya belajar karena ingin mendapat hadiah kenaikan kelas; dan apabila tidak ada hadiahnya maka akan mogok belajar. Begitu kira-kira.
Sepeda yang di dapat waktu naik kelas, atau penghargaan atau kenaikan jabatan atau bonus adalah segala bentuk hadiah yang kita terima pada saat berhasil menyelesaikan pekerjaan atau target. Memang hadiah ini penting, tetapi ada lagi yang penting disamping hadiah yaitu nilai lebih yang kita peroleh. Apa maksudnya ?
Saat saya mendapat hadiah sepeda karena naik kelas, di saat sama ada nilai lebih yang saya peroleh daripada sekedar sepeda yaitu : saya berhasil menunjukkan kepada dunia (keluarga) bahwa saya sudah berhasil menyelesaikan satu tingkat pendidikan dan sekarang menapak ke pendidikan yang lebih tinggi.
Saat si Badu mendapat kenaikan jabatan sebagai team leader karena berhasil menjual shampoo sesuai target maka si badu sudah menunjukkan kepada dunia bahwa dia mempunyai nilai lebih yaitu kemampuan menjual sehingga dia layak untuk mendapat jabatan lebih tinggi.
Saat si Amir mendapat demosi dan penurunan jabatan dari team leader menjadi sales karena target penjualan shampoo-nya tidak tercapai maka si Amir sudah menunjukkan pada dunia bahwa dirinya tidak memiliki nilai lebih sebagai team leader sehingga layak untuk mendapat demosi.
Friends, saya yakin bahwa banyak di antara kita yang berhasil alias sukses. Pertanyaan saya : apakah nilai lebih yang diperoleh saat meraih sebuah keberhasilan ?
Kalau menurut saya -dan berdasar pengalaman- nilai lebih yang saya peroleh adalah : saya merasakan menjadi pribadi yang disayangi oleh Tuhan dan sesama, karena keberhasilan saya tidak lepas dari karya Tuhan dan juga berkat kerjasama team yang ada.
#18 Daily Bread
"You cannot change your destination overnight, but you can change your direction overnight." - Jim Rohn
Anda tidak dapat mengubah tujuan anda dalam semalam, tetapi anda bisa mengubah arahnya dalam semalam.
Diibaratkan kita sedang dalam perjalanan darat (dengan mobil) dari Jakarta ke Surabaya, dan sesampai di Semarang muncul keinginan untuk ke Yogyakarta dan kita-pun menimbang-nimbang apakah akan ke Surabaya atau ke Yogyakarta. Sementara mobil terus melaju dan sampai di Jepara barulah diputuskan untuk ke Yogyakarta dan mobil segera diarahkan ke Yogyakarta.
Friends, dari ilustrasi di atas dapat dilihat bahwa butuh waktu lebih lama untuk memutuskan apakah ke Yogyakarta atau tetap ke Surabaya, dan setelah diputuskan maka dengan cepat bisa diubah arah tujuannya. Hal ini juga sering terjadi saat kita dihadapkan pada kenyataan untuk mengubah tujuan hidup kita. Sangat sulit untuk memutuskan perubahan tujuan hidup, dan diperlukan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk memutuskan. Sesudah kita putuskan maka dengan mudah kita mengubah arahnya.
Dulu, sewaktu masih kuliah, yang ada di benak saya dan menjadi tujuan hidup adalah bisa menjadi manager di sebuah perusahaan. Tujuan ini saya fokuskan dan akhirnya tercapai. Sewaktu bekerja, saya sama sekali tidak berkeinginan untuk berusaha sendiri, sampai di suatu waktu saya bertanya kepada diri sendiri : "Sampai kapan aku harus bekerja di perusahaan ini ?" Tetapi saya kembali bertanya : "Kalau saya berhenti kerja, bagaimana saya bisa mempunyai penghasilan untuk hidup ? Kalau mengandalkan tabungan saja, berapa tahun saya bisa bertahan ?" Dari pertanyaan ini, muncul dari dalam diri saya sebuah keinginan untuk berusaha sendiri, tetapi berusaha apa ? Apakah mau buka trading company export import ? Mau buka biro jasa psikologi ? atau apa ? Saya juga bertanya : "kalau usaha itu merugi atau gagal bagaimana ?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berkecamuk dan membuat saya berpikir dari hari ke hari dan bulan ke bulan hanya untuk memutuskan apakah saya melanjutkan kerja saya sebagai karyawan, ataukah saya memutuskan banting stir untuk buka usaha sendiri ? Lewat satu setangah tahun, akhirnya saya memutuskan untuk usaha sendiri, tetapi saya belum mau juga melepaskan pekerjaan yang ada sebab banyak yang menyarankan saya supaya tetap kerja saja dan tunda keinginan untuk berusaha sendiri. Saya hargai second opinion tersebut dan saya bekerja sambil berusaha sendiri. Apa lacur, ternyata usaha yang saya bangun tidak bisa berjalan lama. Sodara yang saya percayai untuk urus, ternyata tidak bisa jalankan usaha seperti yang saya rencanakan. Gagal total, dan uang yang ditanamkan habis. Saya bersyukur karena tidak meninggalkan hutang. Dari peristiwa ini, saya kembali mencari sebab kegagalan. Saya menemukan jawabnya bahwa penyebabnya ada pada diri saya yang tidak bisa adjust keinginan saya dengan kemampuan sodara saya. Di sini timbul kembali keinginan kuat untuk menjalankan usaha sendiri, dan tidak dipercayakan ke orang lain. Saya yang mempunyai rencana dan gagasan, maka sayalah yang harus mengerjakannya. Saya kembali bertanya : "dapatkan aku melepaskan pekerjaanku sekarang ?" Saya masih diliputi keraguan besar dan ketakutan untuk gagal, yang semuanya mengakibatkan saya perlu waktu sekitar 2 tahun untuk memutuskan bahwa saya akan resign dan berusaha sendiri. Di sinilah saya ingat pesan papi bahwa lebih mudah mengubah arah layar daripada mengubah tujuan perahu.
#19 Daily Bread
"Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage." - Lao Tsu
Dicintai seseorang akan memberi semangat, sementara mencintai seseorang akan memberikan keberanian.
Love is a many splendoured thing,
It's the april rose that only grows
In the early spring.
Love is nature's way of giving
A reason to be living,
The golden crown that makes a man a king.
Once on a high and windy hill,
In the morning mist, two lovers kissed
And the world stood still.
Then your fingers touched my silent heart
And taught it how to sing,
Yes, true love's a many splendoured thing.
Once on a high and windy hill,
In the morning mist, two lovers kissed
And the world stood still.
Then your fingers touched my silent heart
And taught it how to sing,
Yes, true love's a many splendoured thing
#20 Daily Bread
"Don't let someone else's opinion of you become your reality." - Les Brown
Janganlah membiarkan pandangan orang lain tentang anda menjadi kenyataan.
Saya pernah dijuluki "pecundang" oleh kakak sulung saya. Julukan ini muncul pada saat saya pertama kali memulai usaha saya dan gagal, kemudian saya putuskan untuk resign dari pekerjaan saya untuk merintis usaha sendiri yang akhirnya gagal juga. Sebenarnya, hati saya tidak menerima dan marah, sebab kakak yang saya hormati memberikan julukan pecundang ke saya sebagai adiknya. Akan tetapi saya simpan kemarahan tersebut dan saya mulai arahkan pikiran saya untuk hal-hal positif dan tidak memikirkan julukan tersebut. Awalnya memang susah, dan selalu kata "pecundang" terlintas di pikiran saya. Untuk mengatasinya, saya sibukkan diri saya dengan bekerja dan bekerja untuk meraih impian saya; dan justru saya menjadi semakin termotivasi kalau ingat kakak saya waktu mengatakan bahwa saya adalah pecundang. Sesudah beberapa tahun, di tahun 2007, saya akhirnya bisa membuktikan bahwa saya bukanlah pecundang.
Letak keberhasilan saya adalah menerima julukan pecundang dan mengubahnya menjadi energi positif yang memotivasi saya untuk menunjukkan pada kakak saya bahwa saya bukan pecundang. Kalau saya biarkan julukan tersebut menyatu dalam diri saya dan mempengaruhi pemikiran saya maka saya akan digiring ke arah benar-benar menjadi pecundang. Tetapi saya tidak biarkan julukan pecundang menyatu dan mempengaruhi pikiran saya, melainkan justru saya gunakan sebagai energi positif untuk memotivasi saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar