#21 Daily Bread
"We've got to have a dream if we are going to make a dream come true." - Dennis Waitley
Kita harus memiliki impian apabila kita ingin menjadikannya nyata.
Saat tidur, kita sering bermimpi dan sebagian dari kita berpendapat bahwa mimpi adalah bunga tidur. Mimpi di saat tidur memang bisa dianggap sebagai bunga tidur, tetapi -bagi sebagian orang- bisa menjadi tanda untuk peristiwa yang akan kita alami. Hanya saja, saya tidak ingin membahas soal mimpi di waktu tidur, karena njlimet sekali. Adapun mimpi yang ingin saya bahas adalah angan-angan atau cita-cita.
Soal angan-angan ini, hampir semua mempunyai banyak angan-angan. Semua pengin ini dan itu. Banyak deh pokoknya. Tapi apakah semua angan-angan atau keinginan bisa diperoleh ? Saya juga punya banyak angan-angan, tetapi tidak semua bisa saya peroleh atau belum saya peroleh dan masih berupa angan-angan saja. Kalau sudah demikian, saya akan merenung dan bertanya : mengapa angan-angan ini tidak terwujud ? mengapa angan-angan ini belum bisa saya wujudkan ?
Dari kontemplasi, saya menyadari bahwa sering saya mempunyai angan-angan yang terlalu muluk-muluk dan di luar batas kemampuan saya untuk mewujudkannya. Tapi saya juga bertanya ke diri sendiri : bagaimana saya tahu kalau angan-angan saya itu muluk-muluk atau tidak ? Sebenarnya, ada dua cara untuk mengetahui apakah angan-angan kita muluk-muluk atau tidak. Cara pertama adalah dengan mengukur kemampuan diri kita sendiri dengan bertanya : apakah saya bisa mewujudkan angan-angan tersebut ? kalau bisa, maka bagaimana caranya ? Sesudah semua rencana tersusun, maka akan saya lakukan cara yang ke dua yaitu mendiskusikannya dengan orang terdekat. Dulu, saya sering diskusi dengan papi, dan sekarang saya diskusi dengan partner bisnis saya dan beberapa orang saudara. --- Mengapa saya diskusikan angan-angan dan rencana ke orang lain ? Alasannya sederhana : saya perlu pendapat orang lain sebagai second opinion sebab saya menyadari bahwa kadang saya sering over dalam menilai kemampuan saya. --- Selanjutnya, sesudah saya diskusikan, saya harus memutuskan untuk melaksanakan rencana saya atau tidak. Di saat pengambilan keputusan inilah seringkali saya ragu untuk melangkah, terutama apabila second opinion tidak mendukung rencana saya. Apabila sudah ragu, saya sering nekat untuk menerobos rintangan. Akibatnya, saya babak belur. Tetapi bagi saya, lebih baik menerobos daripada tidak sama sekali. Kalaupun saya tidak mencapai yang saya angan-angankan maka setidaknya saya mendapat sesuatu yang berharga yaitu pembelejaran supaya saya hanya berangan-angan tentang sesuatu yang bisa saya raih.
#22 Daily Bread
"Overcoming fear and worry can be accomplished by living a day at a time or even a moment at a time.
Your worries will be cut down to nothing." Robert Anthony
Rasa takut dan khawatir akan bisa teratasi dengan tetap menjalani hidup. Dengan demikian, kekhawatiran anda akan hilang.
Saya pernah berada di dalam keadaan penuh rasa takut dan khawatir. Waktu itu, usaha yang saya jalankan sedang berada di ujung tanduk. Setiap hari saya harus hadapi penagih hutang, sementara piutang saya tidak tertagihkan. Sekali dua kali, para penagih hutang masih bisa menerima penjelasan saya; tetapi ada waktunya mereka sudah tidak bisa menerima penjelasan lagi. Akibatnya, mereka kirim debt collector untuk menagih hutangnya kepada saya. Oleh karena diliputi perasaan khawatir dan takut, saya minta resepsionis dan semua staff sampaikan ke debt collector kalau saya pergi dan tidak di kantor; padahal saya ada dan bersembunyi di ruangan. Lama kelamaan, saya jadi memiliki perasaan ngga enak ke kantor, dan akibatnya saya lebih sering ngantor di rumah atau di tempat lain. Hidup saya seperti buronan yang dikejar-kejar. Setelah hampir 2 bulan, di saat saya sedang mengikuti kebaktian di Gereja, saya berjumpa dengan kreditur yang memiliki tagihan kepada saya. Tentunya saya tidak mungkin menghindari lagi, dan selesai kebaktian saya sapa dia. Kami ngobrol di halaman Gereja, dan kata yang pertama keluar adalah : "mengapa kamu takut kepada saya ? sampai-sampai kamu menghindari saya ? kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan marilah kita sama-sama cari jalan keluarnya." Kami ngobrol cukup lama. Keesokan harinya, saya dengan penuh ssemangat ke kantor dan menerima semua penagih hutang. Saat menemui penagih hutang, saya hanya sampaikan sebuah surat yang isinya undangan kepada kreditur untuk datang ke kantor saya untuk membicarkan masalah pembayaran hutang. Debt kolektor sempat marah-marah ke saya, dan saya tahan emosi saya supaya tidak marah, sambil berkata : "pak, kalau bapak marah-marah ke saya juga tidak akan memberikan solusi. Tolong sampaikan surat saya ke tuan Bapak karena hanya lewat pertemuan saya dan tuan bapak maka akan dicapai solusi." Saat mengatakan demikian, saya siap untuk dipukul oleh mereka. Kreditur yang saya temui di Gereja mengatakan bahwa kalau sampai debt kolektor memukul saya maka berarti hutang saya lunas. Saya percaya saja, dan membuat saya tidak takut dipukul, sebab apabila mereka memukul saya maka itu sama saja hutang saya bisa lunas. Benar juga, dan dengan bersungut-sungut semua debt kolektor kembali ke tuannya dengan membawa surat saya. Ketakutan dan kekhawatiran saya mulai berkurang, dan akhirnya hilang sekali karena saya hadapi ketakutan dan kekhawatiran yang ada.
#23 Daily Bread
Peace is not a matter of prizes or trophies.
It is not the product of a victory or command.
It has no finishing line, no final deadline, no fixed definition of achievement.
Peace is a never-ending process,
the work of many decisions by many people in many countries.
It is an attitude, a way of life,
a way of solving problems and resolving conflicts.
It cannot be forced on the smallest nation
or enforced by the largest.
It cannot ignore our differences
or overlook our common interests.
It requires us to work and live together.
~ Oscar Arias Sanchez (from his Nobel Lecture)
Salam damai untuk semua di hari Minggu ini, berbagi kedamaian itu indah..
#24 Daily Bread
"What is defeat? Nothing but education; nothing but the first step to something better." - Wendell Phillips
Apakah kekalahan ? Tidak ada artinya kecuali sebuah pembelajaran; tidak ada artinya kecuali langkah awal untuk sesuatu yang lebih baik.
Kalah itu menyakitkan bukan ? Apalagi di saat kita sudah persiapkan segala sesuatunya dengan baik, dan masih juga bisa kalah.
Kekalahan tidak hanya terjadi di medan perang, atau di pertandingan; kekalahan juga terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.
Gagal ujian, gagal seleksi karyawan, gagal kenaikan jabatan, dan masih banyak lagi kekalahan-kekalahan yang kita alami dalam kehidupan ini.
Akan tetapi apakah kita langsung berhenti saja setelah menderita kekalahan ?
Saya terus terang menikmati dan belajar dari Three Kingdoms. Saya belajar dari Cao Cao, yang tidak berhenti setelah mengalami kekalahan besar di Chi Bi; bahkan Cao Cao segera menyadari kekeliruannya dan memperbaiki strateginya. Saya belajar dari Liu Bei yang menganggap kekalahan sebagai awal untuk keberhasilan. Beberapa kali Liu Bei kalah, sampai akhirnya dia bisa menang besar dari Cao Cao di pertempuran Han Zhong.
Apabila kita menyaksikan film Three Kingdoms, dari awal sampai akhir, terjadi banyak kekalahan dan kemenangan. Dari sini, saya belajar bahwa kalah dan menang adalah hal yang biasa. Dulu, saya akui bahwa saya tidak bisa menerima kekalahan. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menang. Menang dan menang, itulah kata yang terus berputar di otak saya, tetapi semakin saya berusaha menghilangkan kekalahan, semakin saya dihadapkan pada kekalahan. Di sinilah saya mulai mengubah pemahaman diri saya bahwa kekalahan adalah awal untuk kemenangan. Benar saja, setelah saya ubah mindset saya, dan hasilnya justru saya lebih banyak menang karena saya merasa tidak terbebani untuk menang.
Jadi, yang penting bukan kalah atau menangnya, melainkan usaha kita. Kalaupun kalah, berarti sebuah awalan untuk menang. Kalaupun menang, bisa berarti juga awalan untuk kalah, tetapi bisa juga menang kembali.
#25 Daily Bread
"Promise yourself to be so strong that nothing can disturb your peace of mind." - Christian Larson
Berjanjilah pada diri sendiri untuk menjadi kuat bahwa tidak ada satupun yang bisa mengacaukan pikiranmu.
Di awal saya akan memulai usaha sendiri, banyak yang menyarankan supaya saya tidak berusaha sendiri dan meninggalkan pekerjaan yang ada. Bahkan, tentangan terbesar datang dari keluarga sendiri. Saya akui mengalami kebimbangan yang amat sangat, antara memutuskan berusaha sendiri atau tetap bekerja sebagai karyawan. Salah satu yang membuat saya bimbang adalah saran dari Tante : "kamu sudah mendapat posisi yang bagus, dan gaji yang bagus. Kamu mau tinggalkan pekerjaan yang ada dan memulai usaha sendiri, dan tentunya kamu tidak akan bisa mendapat yang sudah kamu dapat sekarang. Bagaimana kalau usahamu gagal dan modal habis ?" Ucapan tante bukannya tidak masuk akal, justru saya menilainya sebagai peringatan kepada saya bahwa berusaha sendiri tidaklah mudah. Akan tetapi, nasehat tante tidak cukup kuat menghalagi saya untuk menghentikan niatan saya untuk usaha sendiri, karena saya terlalu yakin bahwa usaha saya akan berhasil. Saya yakin rencana yang sudah saya susun akan berhasil dan usaha saya mendatangkan untung.
Saya memang akhirnya memutuskan untuk resign dan memulai usaha sendiri. Berusaha sendiri tidaklah mudah. Banyak sekali masalah yang saya hadapi, dan seringkali saya berpikiran untuk menghentikan saja dan kembali bekerja sebagai karyawan. Nah, pada saat sebelum berusaha menghadapi saran-saran dari orang luar yang menentang saya untuk berusaha, tetapi setelah berusaha justru tentangan berasal dari diri sendiri. Saat usaha berjalan di tempat dan merugi, saya berpikiran untuk kembali bekerja. Saya juga sering menyalahkan keputusan saya untuk memulai usaha sendiri. Bahkan, saya pernah benar-benar menyalahkan diri sendiri saat usaha yang gagal. Setiap hari saya menyesali dan andaikata saya tidak berhenti bekerja maka saya tidak akan mengalami kesulitan yang besar. Keadaan ini berlangsung cukup lama, sampai akhirnya dalam keadaan patah arang, saya coba review kembali semua yang sudah terjadi, dan sayapun kembali ingat ucapan saya saat memutuskan untuk berusaha sendiri "Saya sudah putuskan yang terbaik untuk saya, dan tidak ada satupun yang bisa mengubah keputusan saya. Saya akan berusaha untuk mewujudkan semua rencana." Saya-pun bertanya : "Saya mau berusaha, tetapi apakah saya mampu ? Banyak orang bilang saya tidak mampu, dan kalaupun saya mau tetapi apakah saya mampu dari segi modalnya ?" Saya-pun teringat kisah papi saat memulai berusaha, bahwa papi merintis usahanya dari nol alias tanpa modal. Modal papi hanya tekad, kemauan bekerja keras, kepandaian, dan kepercayaan. Di sinilah muncul kembali semangat untuk berusaha, semangat untuk bangkit; dan benar bahwa saya menepiskan keraguan orang lain akan keberhasilan saya, dan saya juga lawan keraguan pada diri saya sendiri. Setiap malam sebelum tidur, dan pagi saat saya bangun tidur, selalu saya ucapkan : "usaha saya akan berhasil". Inilah yang membuat saya yakin bahwa dengan usaha, doa, dan iman maka usaha yang saya canangkan akan berhasil, entah itu tahun ini atau tahun depan. Sayapun terus melangkah dan melangkah, sampai akhirnya mencapai hasil seperti saat ini.
Sekali tujuan ditetapkan, dan di saat kaki mulai melangkah maka yakinlah dengan langkah yang kita buat; janganlah kita menarik langkah kita hanya karena keraguan dari orang lain.
#26 Daily Bread
#27 Daily Bread
#28 Daily Bread
"No pressure, no diamonds." - Mary Case
Tidak ada tekanan, tidak ada berlian.
Siapa tidak kenal berlian ? Batu permata indah yang bernilai tinggi. Tapi apakah semua tahu bagaimana bisa terjadi batu berlian ? Bagaimana memproses batu kristal yang nampak biasa menjadi batu berlian yang indah ? Proses dari batu biasa menjadi berlian adalah proses berliku dan panjang. Kristal berlian harus dipotong, diasah, dipoles berulang kali supaya menjadi batu yang indah dan bernilai tinggi. Demikian pula dalam hidup ini yang tidak akan berkilau apabila tidak mengalami "pemotongan", "pengasahan", dan "pemolesan".
Friends, dua hari ini Daily Bread tidak tayang. Ada yang mengirim email japri ke saya yang menanyakan mengapa ? Ada yang mengingatkan kalau sudah 2 hari Daily Bread tidak tayang. Dan masih ada beberapa komentar lainnya.
Tetapi sebenarnya apa yang terjadi dalam 2 hari ini ?
Kemarin (27 Januari 2011) adalah momentum sangat penting bagi saya dan seluruh jajaran staff perusahaan. Momen penting yang ditandai oleh peresmian proyek yang kami semua awali dari nol yang terselesaikan dengan penuh perjuangan dan kerja keras. Proyek dengan biaya sangat besar, akhirnya selesai dan diresmikan. Saya dan rekan-rekan direksi duduk di kursi VIP menyaksikan penandatanganan prasasti oleh slaah seorang petingi di Republik ini.
Rasa bangga dan bahagia terpancar pada diri kami dan seluruh jajaran karyawan; dan saat saya kilas balik 3 tahun lalu saat peletakan batu pertama di proyek ini, tidak terasa air mata saya jatuh. Saya dulu duduk di kursi VIP bersama 4 teman baik, dan saat ini hanya 1 teman baik yang bertahan.
Saya kembali teringat mereka bertiga mengundurkan diri di saat pelaksanaan proyek menjelang selesai dan dipenuhi banyak masalah. Mereka meninggalkan perusahaan dan tentunya setumpuk persoalan yang satu persatu harus diselesaikan.
Dengan kekuatan yang ada, saya dan sahabat saya yang masih bertahan melakukan perombakan sistem secara menyeluruh.
Satu demi satu kita bekerja secara team untuk mengurai benang kusut, membenahi yang keliru, dan menambal yang bocor.
Tidak terasa, waktu 3 tahun berlalu, dan dengan diresmikannya proyek kami ini, semua melihat hasil karya kerja keras kami semua. Di akhir acara, saya dan rekan-rekan direksi mengadakan acara gathering bersama seluruh jajaran karyawan perusahaan, dan di acara tersebut saya sampaikan :
"Hari ini, kita semua menyaksikan hasil kerja keras kita. Semua mata memandang keberhasilan kita, dan tidak lama lagi akan banyak yang mencoba merapat ke kita untuk bisa ikut menikmati kebahagiaan kita. Kita di sini semua melalui banyak halangan dan kesulitan. Halangan dan kesulitan inilah yang menempa dan mengasah kita sehingga akhirnya menjadi permata yang bersinar. Apabila kami berhenti pada saat 3 direksi mengundurkan diri, dan apabila tidak ada dukungan dari seluruh staff yang bahu membahu untuk mewujudkan proyek ini, maka tidak akan ada hari ini. Kalian adalah assets perusahaan yang sangat berharga. Permata yang indah, dan marilah kita rayakan indahnya hari ini."
#29 Daily Bread
Grow old along with me!
The best is yet to be,
The last of life, for which the first was made:
Our times are in His hand
Who saith "A whole I planned,
Youth shows but half; trust God: see all, nor be afraid!"
Not that, amassing flowers,
Youth sighed "Which rose make ours,
Which lily leave and then as best recall?"
Not that, admiring stars,
It yearned "Nor Jove, nor Mars;
Mine be some figured flame which blends, transcends them all!"
Not for such hopes and fears
Annulling youth's brief years,
Do I remonstrate: folly wide the mark!
Rather I prize the doubt
Low kinds exist without,
Finished and finite clods, untroubled by a spark.
Poor vaunt of life indeed,
Were man but formed to feed
On joy, to solely seek and find and feast:
Such feasting ended, then
As sure an end to men;
Irks care the crop-full bird? Frets doubt the maw-crammed beast?
Rejoice we are allied
To That which doth provide
And not partake, effect and not receive!
A spark disturbs our clod;
Nearer we hold of God
Who gives, than of His tribes that take, I must believe.
Then, welcome each rebuff
That turns earth's smoothness rough,
Each sting that bids nor sit nor stand but go!
Be our joys three-parts pain!
Strive, and hold cheap the strain;
Learn, nor account the pang; dare, never grudge the throe!
For thence,--a paradox
Which comforts while it mocks,--
Shall life succeed in that it seems to fail:
What I aspired to be,
And was not, comforts me:
A brute I might have been, but would not sink in' the scale.
What is he but a brute
Whose flesh has soul to suit,
Whose spirit works lest arms and legs want play?
To man, propose this test--
Thy body at its best,
How far can that project thy soul on its lone way?
Yet gifts should prove their use:
I own the Past profuse
Of power each side, perfection every turn:
Eyes, ears took in their dole,
Brain treasured up the whole;
Should not the heart beat once "How good to live and learn?"
Not once beat "Praise be Thine!
I see the whole design,
I, who saw power, see now love perfect too:
Perfect I call Thy plan:
Thanks that I was a man!
Maker, remake, complete,--I trust what Thou shalt do!"
For pleasant is this flesh;
Our soul, in its rose-mesh
Pulled ever to the earth, still yearns for rest;
Would we some prize might hold
To match those manifold
Possessions of the brute,--gain most, as we did best!
Let us not always say,
"Spite of this flesh to-day
I strove, made head, gained ground upon the whole!"
As the bird wings and sings,
Let us cry "All good things
Are ours, nor soul helps flesh more, now, than flesh helps soul!"
Therefore I summon age
To grant youth's heritage,
Life's struggle having so far reached its term:
Thence shall I pass, approved
A man, for aye removed
From the developed brute; a god though in the germ.
And I shall thereupon
Take rest, ere I be gone
Once more on my adventure brave and new:
Fearless and un-perplexed,
When I wage battle next,
What weapons to select, what armour to indue.
Youth ended, I shall try
My gain or loss thereby;
Leave the fire ashes, what survives is gold:
And I shall weigh the same,
Give life its praise or blame:
Young, all lay in dispute; I shall know, being old.
For note, when evening shuts,
A certain moment cuts
The deed off, calls the glory from the grey:
A whisper from the west
Shoots--"Add this to the rest,
Take it and try its worth: here dies another day."
So, still within this life,
Though lifted o'er its strife,
Let me discern, compare, pronounce at last,
This rage was right in' the main,
That acquiescence vain:
The Future I may face now I have proved the Past."
For more is not reserved
To man, with soul just nerved
To act to-morrow what he learns to-day:
Here, work enough to watch
The Master work, and catch
Hints of the proper craft, tricks of the tool's true play.
As it was better, youth
Should strive, through acts uncouth,
Toward making, than repose on aught found made:
So, better, age, exempt
From strife, should know, than tempt
Further. Thou waitedst age: wait death nor be afraid!
Enough now, if the Right
And Good and Infinite
Be named here, as thou callest thy hand thine own
With knowledge absolute,
Subject to no dispute
From fools that crowded youth, nor let thee feel alone.
Be there, for once and all,
Severed great minds from small,
Announced to each his station in the Past!
Was I, the world arraigned,
Were they, my soul disdained,
Right? Let age speak the truth and give us peace at last!
Now, who shall arbitrate?
Ten men love what I hate,
Shun what I follow, slight what I receive;
Ten, who in ears and eyes
Match me: we all surmise,
They this thing, and I that: whom shall my soul believe?
Not on the vulgar mass
Called "work," must sentence pass,
Things done, that took the eye and had the price;
O'er which, from level stand,
The low world laid its hand,
Found straightway to its mind, could value in a trice:
But all, the world's coarse thumb
And finger failed to plumb,
So passed in making up the main account;
All instincts immature,
All purposes unsure,
That weighed not as his work, yet swelled the man's amount:
Thoughts hardly to be packed
Into a narrow act,
Fancies that broke through language and escaped;
All I could never be,
All, men ignored in me,
This, I was worth to God, whose wheel the pitcher shaped.
Ay, note that Potter's wheel,
That metaphor! and feel
Why time spins fast, why passive lies our clay,--
Thou, to whom fools propound,
When the wine makes its round,
"Since life fleets, all is change; the Past gone, seize to-day!"
Fool! All that is, at all,
Lasts ever, past recall;
Earth changes, but thy soul and God stand sure:
What entered into thee,
That was, is, and shall be:
Time's wheel runs back or stops: Potter and clay endure.
He fixed thee mid this dance
Of plastic circumstance,
This Present, thou, forsooth, wouldst fain arrest:
Machinery just meant
To give thy soul its bent,
Try thee and turn thee forth, sufficiently impressed.
What though the earlier grooves,
Which ran the laughing loves
Around thy base, no longer pause and press?
What though, about thy rim,
Skull-things in order grim
Grow out, in graver mood, obey the sterner stress?
Look not thou down but up!
To uses of a cup,
The festal board, lamp's flash and trumpet's peal,
The new wine's foaming flow,
The Master's lips a-glow!
Thou, heaven's consummate cup, what need'st thou with earth's wheel?
But I need, now as then,
Thee, God, who mouldest men;
And since, not even while the whirl was worst,
Did I,--to the wheel of life
With shapes and colours rife,
Bound dizzily,--mistake my end, to slake Thy thirst:
So, take and use Thy work:
Amend what flaws may lurk,
What strain o' the stuff, what warpings past the aim!
My times be in Thy hand!
Perfect the cup as planned!
Let age approve of youth, and death complete the same!
Robert Browning (1812-1889)
#30 Daily Bread
If I could catch a rainbow
I would do it just for you
and share with you its beauty
On the days you're feeling blue.
If I could build a mountain
You could call your very own
A place to find serenity
A place to be alone
If I could take your troubles
I would toss them in the sea
But all these things I'm finding
are impossible for me.
I cannot build a mountain
Or catch a rainbow fair
But let me be what I know best
A friend who's always there.
Writter : unknown
#31 Daily Bread
"An ant on the move does more than a dozing ox." - Lao Tzu
Seekor semut yang berjalan akan melakukan lebih banyak hal daripada kerbau tidur.
Sewaktu kecil, saya sulit bangun pagi, dan sering membuat saya dimarahi papi dan mami karena selalu saja nyaris terlambat masuk sekolah. Bahkan, perjalanan dari rumah ke sekolah juga saya gunakan untuk tidur. Singkat cerita, papi dan mami sering berkata kalau saya ini seperti kerbau, yang sukanya tidur.
Awalnya, saya tidak merasakan keanehan dengan julukan tersebut. Tetapi seiring dengan bertambahnya usia, saya semakin merasa tidak enak saat dijuluki kerbau tidur. Saya-pun mulai mempertanyakan hal ini ke papi dan mami, yang dijawab : "coba kamu lihat sendiri kerbau tidur".
Sejujurnya, saya masih tidak paham dengan penjelasan papi, dan saya malas untuk bertanya lebih lanjut.
Rupanya, papi mengetahui bahwa saya masih belum paham tetapi malas untuk bertanya. Papi berkata : "kalau belum mengerti maksud papi, kenapa kamu tidak bertanya ?"
Saya kaget, dan makin tambah bingung. Sampai akhirnya papi menjelaskan : "kerbau itu binatang paling malas, dan hanya bergerak atau bekerja setelah dicambuk. Itu sama saja dengan kamu, yang musti dimarahi baru berangkat sekolah. Selalu saja dimarahi dulu baru kamu belajar dan melakukan tugas yang diberikan papi dan mami. Itu sebab papi sebut kamu kerbau."
Saya hanya diam saja, sambil mencoba memahaminya.
Tetapi papi melanjutkan : "lihat saja sekarang, kamu sudah tahu kalau kamu tidak mengerti perkataan papi, tetapi kamu diam saja dan papi tahu kalau kamu malas bertanya. Sekarang, renungkan semua ucapan papi, dan ubahlah itu semua."
Friends, tanpa kita menyadari, sering kita menjadi seperti kerbau. Kita malas melakukan sesuatu, dan bahkan lebih suka menunda-nunda pekerjaan yang harus dilakukan. Saya juga pernah menjadi orang yang malas dan menunda pekerjaan. Kalau saya merenungkan kembali semuanya, sering saya menangis dan menyesali diri karena begitu banyak peluang yang saya buang. Tetapi sesal saja tidak cukup, yang harus dilakukan adalah mengubah yang buruk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Bagaimana kalau tidak bisa ? Yakinlah bisa, dan percayalah bahwa Tuhan ada untuk membantu. Hanya dengan bersandar padaNya, maka kita bisa menjadi baik dan lebih baik lagi. Selangkah demi selangkah -seperti langkah semut berjalan- akan membawa kita ke perubahan yang luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar